CONTOH VERBATIM
Pertemuan I
Tanggal : Senin, 14 Mei 2007
Waktu : 10.00 – 10.30 WIB
Tempat : Ruang konseling
Pelaksanaan : Penggalian Masalah
Konselor/klien
|
Dialog
|
Keterampilan
|
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
|
“Assalamualaikum”
“wa’alaikumsalam…
silakan masuk(Jabat tangan) silakan duduk…bagaimana kabarnya?
“baik bu…”
“Namanya siapa
ya dan dari kelas apa?”
“Nama saya Ani
dan kelas 3 IPA 1 bu…”
“Ani sudah
pernah konseling sebelumnya?”
”belum bu..”
“Apa Ani tahu
apa itu konseling?”
“ Setahu saya
konseling itu bias membantu saya untuk mengatasi permasalahan saya”
“Itu benar,
Konseling bias untuk membantu Ani memecahkan permasalahan Ani, masalah yang
akan dipecahkan difokuskan pada masalah yang sangat mengganggu Ani namun jika
permasalahnya lebih berat Ani akan dialih tangankan kepada yang lebih ahli.
Konseling ini sifatnya rahasia jadi Ani tidak perlu khawatir apa yang akan
kita bicarakan nanti diketahui oleh rang lain. Selain itu konseling ini
sifatnya sukarela tanpa adanya paksaan dari pihak manapun jadi ibu harapkan
Ani dating kesini bukan karena paksaan. Selain itu juga pertemuan kita
dibatasi oleh waktu dan lama pertemuan kita adalah 30 menit, apa Ani ada
pertanyaan?”
“Tidak bu…”
“Sekarang
ceritakanlah apa yang menjadi masalah Ani?”
“(diam sejenak)
bagaimana saya ceritanya ya bu? Saya bingung mulai dari mana…”
“Seperti yang
telah ibu jelaskan tadi bahwa pertemuan kita sifatnya rahasia jadi Ani tidak
perlu takut untuk diketahui oleh orang lain, Ani bias mulai cerita dari apa
yang Ani rasakan sekarang?”
“ Saya bingung bu…”
”Apa yang Ani maksubkan dengan bingung disini?
“Saya bingung
dengan keluarga saya bu..”
”Ceritakanlah lebih mendetail?” ”keluarga saya kacau bu…”
“ Apa yang Ani
maksudkan dengan kacau disini?”
”Ayah saya sudah 2 tahun tidak bekerja lagi, setiap hari beliau hanya berkumpul dengan teman – temannya tanpa usaha untuk mencari kerja bu…”
“Ayah Ani dulu
bekerja apa?”
“Dulu ayah
seorang wiraswasta bu tapi sekarang sudah tidak lagi, usaha ayah saya
bangkrut bu…’
“pernah
membicarakan sesuatu dengan ayah Ani?”
”Tidak bu… hal itu karena ayahsaya sering marah – marah.. kadang saya merasa benci sama ayah saya bu..” ” Ani benci kepada ayah Ani?” ”Ya…” ”kenapa?” ”Karena ayah saya tidah bertanggung jawab sama keluarga. Beliau sama sekali tidak tahu diri. Beliau selalu marah – marah meminta dicukupkan kebutuhannya dan kebutuhan hobi memancingnya padahal beliau tidak mau tahu keluarga kami kekurangan. Saat marah ayah sering sekali memukul ibu saya…(menangis)” ”Ibu mengerti perasaan Ani… menangislah bila itu dapatmembuat Ani sedikit tenang”
“saya kasihan
sama ibu saya….”
” Ani bisa menceritakan lebih jelas lagi?” ”Ibu saya tidak pernah diberikan nafkah sama sekali oleh ayah saya dan sering dipukul pula oleh ayah saat marah – marah….saya beruisaha membantu ibu dengan bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko tapi gajinya kecil sekali jadi tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga untuk itu saya menjual barang – barang yang ada di rumah untuk terus dapat menutupi kekurangan dan sekarang semua barang – baranmg sudah habis terjual. Saya terpaksa bekerja demi ibu walaupun itu berarti saya tidak bisa main – main seperti kebanyakan teman – teman saya…” “ Ani sedih dengan kondisi seperti itui?”
“jelas saya
sedih bu… dimana kebanyakan anak seusia saya bisa bersenang – senang menikmati masa remaja
saya malah harus bekerja membanting tulang tapi saya rela bu demi ibu dan
adik saya..”
“Ceritakanlah
tentang ibu Ani?’
“Ibu saya hanya
seorang buruh pabrik yang gajinya tidak seberapa padahal saya masih sekolah
dan adik saya juga. Apa lagi adik saya lemah sekali. Itu sebabnya saya harus
bekerja untuk membantu ibu”
“Ceritakanlah
tentang adik Ani?”
” Adik saya sekarangf masih sekolah kelas 2 SMK. Kita Cuma beda setahun umurnay. Akan tetapi adik saya orangnya lemah dan sakit – sakitan jadi saya tidak tega memintanya untuk ikut bekerja. Adik saya juga anaknya pendiam seperti saya. Ia tidak pernah bercerita apaun tentang dirnya dan perasaannya akan tetapi saya yakin perasaanya sama seperti yang saya rasakan sekarang” ”pernahkah Ani curhat kepada orang lain?”
“tidak… saya
hanya menyimpannya sendiri… baru dengfan ibu saja saya bercerita….saya orang
yang tidak bisa mengungkapkan apa yang ada dalam hati ini bu…sebelum bicara
saya sudah takut sendiri..”
” Ani tidak bisa mengungkapkan apa yang Ani rasakan, Benar demikian?” ”Ya bu… Pernah saya mencoba berbicara dengan ibu saya tapi bibir saya tidak bisa terbuka…” ”Ani takut sendiri sebelum berbicara, benar begitu?” ”Ya bu..”
“Sebernarnya ibu
tidak begitu mengerti dengan kata takut yang Ani maksukan, bisakah Ani
menjelaskannya?”
”Saya takut salah ngomong bu”
“Pernah Ani
berbicara dengan ayah Ani?”
“ Tidak… saya
takut karena ayah saya orangnya pemarah. Ibu saja sering dipukulnya padahal
saya ingin sekali bicara kepada ayah saya tentang apa yang menjadi uneg –
uneg saya …”
“ Apa yang ingin
Ani katakana kepada ayh Ani?”
”Saya ingin bilang kalau saya kecewa sama ayah saya bu…” ” Ani merasa kecewa?”
“Ya bu… saya
juga marah kepada ayah saya bu!!!”
”Kenapa?” ”Karena ayah saya tidak bertanggung jawab pada keluarga”
“ TIdak
bertanggung jawab bagaimana?”
“Harusnya
“ibu mengerti
perasaan Ani…”
” Saya bingung bu dengan hal ini bu”
“Apa yang Ani
maksudkan denga bingung dengan hal ini disini?”
“ Saya bingung
mencari cara untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ibu saya memang bekerja tapi
gajinya kecil sekali begitu juga dengan saya padahal adik sakit – sakitan dan
masih harus sering berobat..”
“Ibu mengerti
tentang perasaan Ani”
“Ani dan adik
Ani
”Biayanya bantuan dari paman saya, adik dari ibu saya…”
“Sekolah Ani
karena bantuan paman, benar demikian?”
”ya bu…” ” Ceritakanlah tentang paman Ani?” ”paman saya seorang guru, beliau sangat baik krena telah membiayai kami sekolah…” ”Apa Ani dekat dengan paman?”
“Ya sedikit
dekat bu…”
”Apakah Ani pernah menceritakan tentang perasaan Ani kepada paman Ani?”
“ini adalah
kekurangan saya bu…. Saya tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan saya sama
orang lain. Jangankan kepada paman kepada ibu saya sendiri saja saya tidak
bisa mengatkannya… saya penakut bu… kadang saya marah kepada diri saya
sendiri, kenapa saya tidak bisa mengatakan apa yang saya ingin katakana dan
rasakan, hal itu membuat saya sedih dan tertekan bu... Saya biasanya hanya
bisa menangis dan mengurung diri di kamar tapi bila saya sudah tidak kuat
sekali saya biasanya pergi dari rumah bu…”
”Pergi dari rumah?”
“ya bu… itu saya
lakukan bila saya sudah tidak kuat dengan keadaan di rumah bu…”
” ibu mengerti dngan apa yang Ani katakan….Ibu berusaha untuk merangkum pernyataan – pernyataan Ani tadi. Ayah Ani tidak bekerja lagi selama 2 tahun ini sehingga kebutuhan keluarga tidak tercukupi padahal Ani dan Adik Ani masih sekolah. Ani kecewa dengan ayah Ani karena tidak bertanggung jawab dengan keluarga. Ibu Ani seorang karyawan pabrik yang gajinya tidak seberapa. Untuk itu Ani terpaksa membantu ibu dengan bekerja separuh waktu di toko. Ani ingin mengatakan peerasaan Ani kepada ayah Ani akan tetapI tidak bisa, benar begitu?”
“ya bu…”
“Dalam konseling
terdapat beberapa teknik yang dapt digunakan untuk membantu Ani, salah
satunya adalah Strategi asertf”
“Apa itu bu?”
“ Teknik asertf
adalah teknik yang dapat membantu Ani berperilaku asertif. Perilaku asertif
adalah perilaku yang dapat membela kepentingan pribadi, mengekspresikan
persaan dan pikiran baik positif maupun negative secara jujur dan langsung
tanpa mengurangi hak – hak atau kepentingan orang lain…”
“Maksud ibu biar
saya bisa mengatakan apa yang ingin saya katakana?”
“Ya benar
begitu..”
“ya saya tertarik bu”
“Bagus… kita
akan berlatih teknik ini pada pertemuan berikutnya karena ibu rasa waktu kita
sudah cukup”
“ya bu”
“kita cukupkan
pertemuan kita kali ini sampai disini dan kita akan bertemu lagi dengan
agenda latihan asertif, bagaimana?”
“ya bu…”
”Untuk waktu pertemuan kita berikutnya kapan?”
“Saya rasa 2
hari lagi saja bud an jam yang sama”
“Baik ibu
tunggu…”
“Saya permisi dulu
ya bu.. terima kasih atas bantuannya..”
“sama – sama”
“Assalamualaikum”
“wa’alaikumsalam”
|
Attending
Attending
Structuring
Structuring
Structuring
Memimpin tidak
langsung
Meminpin tidak
langsung
Menjelaskan
Memusatkan
Menjelaskan
Bertanya
Bertanya
Parafrase
Bertanya
Attending
Memusatkan
Paraphrase
Memimpin
langsung
Memimpin
langsung
Bertanya
Cek persepsi
Cek persepsi
Menjelaskan
Bertanya
Bertanya
Memantulakan
Bertanya
Bertanya
Attending
Menjelaskan
Attending
Bertanya
Cek persepsi
Memimpin
langsung
Bertanya
Bertanya
Menjelaskan
Attending,merangkum
Menerangkan
strategi
Menerangkan
strategi
Attending
Attending
Attending
Bertanya
Attending
attending
|
Pertemuan II
Tanggal : Rabu, 16 Mei 2007
Waktu : 10.00 – 10.30 WIB
Tempat : Ruang konseling
Pelaksanaan : latihan strategi asertif
Konselor/ klien
|
Dialog
|
Keterampilan
|
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
|
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikam
salam..oh Ani mari silakan masuk (jabat tangan) silakan duduk..bagaimana
kabarnya?”
“Lebih baik dari
kemarin bu setelah cerita kemarin rasanya sedikit plong..”
“Syukurlah kalau
begitu..Ani masih ingat apa yang apa yang telah kita bicarakan kemarin?”
“Ya bu.. kemarin
saya cerita tentang perasaan saya kepada ayah saya”
“Bagus bila Ani
masih ingat. Seperti kesepakatan kita pada pertemuan kemarin bahwa sekarang
kita akan latihan teknik asertif. Apa Ani masih ingat tentang teknik asertif
ini?”
“Kalau tidak
salah, latihan asertif adalah latihan yang membantu saya agar dapat
mengungkapkan apa yang saya rasakan tanpa menghiraukan hak dan perasaan orang
lain”
“ya benar,
ternyata Ani masih ingat, bagaimana mau mencobanya?”
”Ya bu..”
“Ceriotakan apa
yang ingin Ani katakana sekarnag?”
”saya ingin bisa mengatakan pada ayah saya bahwa saya kecewa banget sama beliau karena sudah tidak bertanggungjawab sama keluarga”
“Pernah Ani
mengatakannya kepada ayahAni”
“Tidak bu… saya
tidak pernah bisa mengungkapkan sesuatu apapun kepada ayah saya. Saya seakan
kehilangan kata – kata dan menjadi gemeteran”
“Saat situasi
apa Ani merasa seperti itu?”
“Saat berhadapan
dengan ayah dan ingin berbicara sama beliau tentang apa yang saya rasakan
terhadap beliau”
“Ani merasa
bingung?”
“Ya bu…”
”Sekarang kita akan berlatih agar Ani dapat mengungkapkan apa yang ingin Ani katakana kepada ayah Ani, Ani mengerti?” ”Ya bu dan itu yang sangat Ani butuhkan, tapi bagaimana bu?”
“Ani bisa
berkata, ayah apa tidak sebaiknya ayah mencari kerja. Sekarang apa yang akan
Ani katakana?”
“Saya akan
mengatakan, ayah sebaiknya ayah mencari kerja lagi, kebutuhan kita semakin
banyak, kalau ayah tidak bekerja bagaimana kita bisa bertahan hidup dan Ani
dan adik masih sekolah, kasihan ibu..”
“bagus… katakana
sekali lagi”
“Ayah lebih baik
ayah mencari kerja sehingga dapat mencukupi kebutuhan”
“Katakan lagi
lebih keras”
“Ayah carilah
pekerjaan”
“Sekarang
banyangkan Ani dalam situasi yang sebenarnya dan Ani sedang berhadapan dengan
ayah Ani”
“(membanyangkan)
sekarang saya sedang berhadapan dengan ayah dan saya sedang berbicara
padanya.. ayah saya ingin mengatakan sesuatu, ayah apa tidak sebaiknya ayah
mencari kerja lagi”
“Katakan sekali
lagi”
“ayah sebaiknya
ayah mencari pekerjaan lagi”
”Bagus… ketika
Ani bisa mengatakan perasaan Ani, Ani bisa mengatakan padadiri Ani bahwa Ani
hebat..”
“saya hebat”
” Ani bisa berlatih hal itu di rumah. Berlatihlah untuk menjadi asertif”
“ya bu… Tapi
ketika saya tidak bisa mengatkan pikiran dan perasaan saya bagaimana bu?”
”Ani bisa mencatatnya… catat pada situasi apa Ani tidak bisa mengungkapkan perasaan dan di sebelahnya kata – kata yang ingin Ani katakana”
“ya bu”
”Ibu rasa pertemuan kita cukup sampai di sini kita akan bertemu lagi 2 minggu lagi untuk melihat hasil latihan kita hari ini, bagaimana?”
“ya bu..”
“waktu dan
harinya sama seoerti ini bagaimana?”
”ya bu…..Terima kasih bu” ”Sama – sama”
“assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam”
|
Attending
Attending,
merangkum
Attending,
bertanya
Attending,
bertanya
Memimpin tidak
langsung
Bertanya
Bertanya
Memantulkan
Menginterpretasi
Memodelkan
Mengulang
Mengulang
Transfer ke
situasi nyata
Mengulang
Attending,
memberi penguat
Memberipekerjaan
rumah
Pekerjaan rumah
Attending,
bertanya
Bertanya
Attending
|
Pertemuan III
Tanggal : Rabu, 30 Mei 2007
Waktu : 10.00 – 10.30 WIB
Tempat : Ruang konseling
Pelaksanaan : Cek hasil konseling
Pelaksanaan : Cek hasil konseling
Konselor/ klien
|
Dialog
|
keterampilan
|
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Kls
Kl
ks
kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
Kl
Ks
|
“
Assalamualaikum”
“wa’alaikum
salam…silakan masuk Ani.. Ibu sudah menunggu…”
“maafbu tadi ada
ulangan jadi datangnya telat untuk konseling”
“Tidak apa –
apa, bagaimana kabarnya hari ini?”
“Baik bu dan
plong sekali setelahbisa mengutarakan yang jadi uneg –uneg yang telah lama
tersimpan. saya telah berhasil
mengatakan perasaan saya secara langsung kepada ayah saya bu..”
“Baguslah…Nampaknya
Ani menunjukkan banyak perubahan. apa Ani melakukan tugas yang ibu berikan
untuk berlatih?”
“ya bu.. ini
catatan saya ( menyerahkan kertas) “
“Bagaimana
reaksi ayah Ani?’
“beliau Awalnya
sangat marah dan hamper saja memukul saya tapi untung ada ibu yang
mencegahnya dan untungnya juga semua sekarang telah kembali banik. Ayah saya
ternyata mendengarkan perkataan saya, beliau mulai mencari pekerjaan
sekarang, dan itu membuat saya merasa senang”
“Baguslah..
setelah meliha catatan Ani, nampak beberapa situasi yang Ani belum bisa
asertif, benar begitu?’
“ya bu.. ada
beberapa situais yang membuat saya merasa masih takut untuk mengungkapkan
perasan saya.. contohnya saat teman saya menjaili saya.. tapi saya akan terus
berusaha untuk lebih dapat mengungkapkan perasaan saya bu..”
“bagus sekali
Ani.. Ani benar – benar menunjukkan banyak perubahan..terus berlatih ya
Ani..”
“Ya bu..”
“ibu rasa
pertemuan kita cukupsampai disini saja.. dan ibu berharap Ani terus berlatih
untuk lebih dapat mengungkapkan perasaan dan pikiran Ani”
“ya bu..terima
kasih banyak..”
”sama – sama Ani”
“Asalamualaikum”
“wa’alaikumsalam”
|
Attending
Attending
Attending
Bertanya
Attending, cek
persepsi
Attending
Attending
|